Would You Quit Smoking For Someone You Love?

Jadi ceritanya sore ini ada perdebatan menarik tentang rokok. Debat ringan penuh canda dengan teman-teman kantor laki-laki yang tiap sore atau stres ambil istirahat untuk menjernihkan pikiran dengan merokok.

Nah, dasar gue yang suka ngomong dulu mikir nanti, gue komen aja “ngerokok mulu lo, ngevape aja kenapa?”

“Gue pernah ngevape dan nggak suka. Ribet soalnya pake dimasukin dulu liquidnya”

terus gue nyeplos lagi nih

“ya paling ntar kalo punya pacar trus disuruh berhenti, lo bakal berhenti ngerokok”

maybe i pushed so many male ‘button’ or something (lol) karena abis itu dia nanggepin gini

“ya kalo gue punya pacar yang suruh gue berhenti ngerokok gue bilang, ‘lo kalo gak terima gue suka ngerokok yaudah tinggalin gue aja'”

terus nggak lama, ada yang nyaut “lo tipe cewek yang suka ngatur ya?”

Danang dulu perokok, gue dulu juga social smoker cuma semakin lama emang terganggu sama baunya. I asked him to quit smoking and i knew it was a hard thing to do, so i took my time. Gue mulai minta dia untuk gak ngerokok di depan gue, setelah nikah gue beliin dia vape untuk mengganti rokoknya and it worked tho, thankfully. Gue nggak ada maksud bragging sama sekali ya, gue cuma bilang ke dia kalau gue mau hidup sedikit lebih lama bersama dia dan kebetulan saat itu dia penasaran mau pake vape.

Tapi, perdebatan di atas agak membekas di pikiran gue selama perjalanan pulang, apa rokok memang lebih penting daripada orang yang kita cintai, misal pacar, istri atau anak?

Gue dulu pernah punya pacar yang perokok super berat dan dia punya asma yang nggak jarang kambuhan, konyol nggak kalo gue minta dia berhenti ngerokok? Kita putus pun (seinget gue) karena dia yang nggak mau berhenti ngerokok. Honestly tho’ salah satunya gue capek karena asmanya dia sering kambuh dan pernah masuk RS. Terserah ya, mau bilang gue kejam atau apa, but how can you love somebody who dont even love himself in the first place?

Bapak dulu perokok berat, rumah sering penuh dengan kepulan asap, dia berhenti setelah umur gue sekitar 5 atau 7 tahun. He did it, he quit smoking for my mom and my sisters, he loves them. Berhenti ngerokok memang bukan hal yang mudah, tapi Bapak dan Danang bisa membuktikan kalau hal itu bisa.

Gue juga nggak ngerti sih, kenapa kalo gue bahas topik berhenti ngerokok ke cowok itu kayak bilang “eh, lo gendutan ya sekarang” ke cewek, bawaannya sensi, tersinggung lah pokoknya, hahaha.

Bapak dan Danang bukan cuma dua orang yang sukses berhenti merokok, ada banyak yang akhirnya berhasil tapi ya itu kebanyakan alasannya karena pasangan atau anak. Lagian, setau gue juga kalau perokok itu gak boleh peluk atau dekat-dekat bayi lho, dia harus mandi dan ganti baju, seperti yang dijelaskan artikel berikut ini.

Gue nggak pernah benci perokok sih, gue cuma benci mereka kalo ngerokok di tempat umum yang banyak orang misal halte bus/ terminal/ stasiun atau yang lebih parahnya mereka yang ngerokok di angkooooot, astaga beneran deh kalo ini tipe perokok udik. Bodo amat lo mau ngecap gue apa.

Agak konyol juga sih sama mereka yang nggak suka/ complain saat disuruh ngerokok di ruang yang sudah disediakan, mereka jadi ngerasa tersinggung, terdiskriminasi, malah marah-marahin petugas yang menertibkan dan protes ala ala yuppies gitu, nah tapi jadi tau kan ye rasanya jadi minoritas? #eaaa

Ya gue sih terserah aja lah ya, gue lebih baik menghindari asap rokok, gue juga berharap mudah-mudahan ceplosan gue di atas adalah ceplosan terakhir tentang rokok, agak kapok juga sih soalnya, hahaha. Tapi ya itu, gue sih masih percaya hal yang bisa bikin seseorang berhenti ngerokok adalah saat dia ketemu seseorang yang benar-benar dia cintai. Love can conquer anything #tsaaah.

 

***

Beli Barang KW Tanpa Dinyinyirin adalah Hak Segala Bangsa

Sebelum memulai ritual kerja, setelah sarapan gue biasa buka Twitter. Ada yang berbeda di timeline setelah riuh Pilkada DKI Jakarta dengan cuitan susah move on dari Ahok. Di timeline pagi ini ada dua cuitan, yang satunya dari selebtwit dan satunya dari seorang kawan dekat. Mereka membahas hal yang sama, yakni bagaimana orang membeli dan menggunakan barang KW. Setelah kemudian diketahui bahwa itu bersumber dari satu selebtwit paling berpengaruh (dan nyinyir), menyebarlah opini tentang penggunaan barang KW misalnya seperti

“Daripada pamer beli barang KW, mending beli original”

“Dasar BPJS. Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita”

“kalo nggak mampu nggak usah lah maksain beli KW”

itu nggak kutipan bener-bener kutipan sih. Tapi intinya begitu lah ya.

Actually, bagi gue topik ini nggak penting banget sih. But, what the fukk, world? Apa salahnya beli barang KW?

Gue pun salah satu orang yang beli barang KW, karena kalo emang bagus kenapa nggak? Gue nggak mamerin barang-barang KW gue ke orang-orang sih, tapi gue pake. Nah yang buat gue heran, orang-orang snob yang cuma mau beli barang-barang original itu jahat banget. Dan jangan salah, kebanyakan dari mereka itu adalah……..

cowok.

Terserah lo mau ngecap gue gender profiling, tapi pengalaman gue berkata begitu. Gue beli jam tangan KW merk Esprit seharga Rp 92.000 di ITC yang sampai sekarang masih berfungsi dengan baik padahal sering jatoh dan terkena basahan air hujan. Suatu hari, seorang teman cowok berkata

“Lo tuh kalo beli jam yang mahalan dikit kenapa”

“Lah emang kenapa? Buat gue purpose-nya jam ya cuma sebagai penunjuk waktu. Bagi gue nggak make sense aja beli jam berjuta-juta kalo fungsinya cuma kepake buat nunjukin waktu. Gue juga bukan Bear Grylls (petualang) yang jamnya mesti ada kompas, suhu udara atau senternya”

“Hmmm, mungkin karena cowok aksesorisnya sedikit kali ya. jadi kalo beli jam tuh biasanya mahal”

Kasus kedua, teman perempuan beli sepatu converse buatan tampur, ketika teman gue itu ketemu orang (yang mana laki-laki) dan mereka belum kenal sebelumnya, orang itu langsung komentar dengan nyinyir “Sepatu lo KW ya??”

Dari dua kasus di atas, gue agak amaze aja sih. Segitu pentingnya kah nyinyirin orang yang pake barang KW? Gue rasa mereka mengeluarkan komentar-komentar seperti itu to make them feel better about themselves aja sih, ngerasa superior gitu gue bisa beli barang mahal, lo nggak. Itu one thing sih ya, tapi kalo sampai komentar ‘Beli barang KW aja petantang petenteng dipamerin ke orang-orang. Lo sakit ya?’

Seriously dude, what the fukk is wrong with you?

Gini ya, Indonesia itu negara bebas jadi terserah orang mau beli barang apa aja, mau ori atau KW. Lo nggak suka dia pamerin barang-barang KWnya ke lo? Kesel boleh, but you dont have to be mean, its that simple. I mean sure, there are a lot of fukktards out there but there’s no reason to be mean to them if they dont hurt/ offense you in the first place.

Terus ya kalo misalnya barang KW yang dibeli buatan lokal? Kan sama aja bantu local industries, daripada lo bela-belain impor barang, malah berkontribusi memperparah perubahan iklim. huh.

Gue setuju dengan desainer (yang gue lupa namanya siapa) yang gue liat di National Geographic bilang

“Fashion is about being someone else, not who you are. If you’re being who you are, the you’ll be wearing t-shirt and jeans. Fashion is about you transcend into someone else you want”

That i agree. Statement desainer baju itu membuat gue mengerti bahwa banyak orang yang bela-belain beli sesuatu yang di luar kemampuan dirinya, dalam kasus ekstrim tentu kita masih ingat tentang cewek-cewek ABG yang menjual keperawanannya supaya bisa beli iPhone. Those fashion items can make them feel that they are fit in to their peers, that they are matter and financially able to purchase something expensive and sophisticated. They want to be someone else they want. And its okay.

Mark Zuckerberg dan Bill Gates seringnya cuma pake kaos dan celana jeans yang nggak bermerk, Bob sadino? terkadang malah cuma kutang dan celana pendek. Kenapa? Because for them, it doesnt matter. They dont need to be someone else.

Bukan gue nge-judge orang yang suka beli barang-barang mahal as fake atau sebaliknya. Nggak lah, karena buat gue nggak ada salahnya menginginkan jadi orang lain, bebas aja sih. Santai aja, mau beli barang KW atau original itu nggak mendefinisikan lo sebagai apa-apa di mata gue. Orang yang tukang nyinyir ke orang lain ya nyinyir aja, terlepas apa yang dia pakai, actions speak louder than words kan?

Jadi intinya, gak usah lah lo repot mikirin kata-kata orang lain tentang barang KW atau ori yang lo beli. Semampunya aja, kalo mau dimampu-mampuin juga terserah. Mau pake alasan dukung industri lokal atau anti bajakan juga bebas aja.

Beli lah apa yang lo mau. Jangan biarkan selebtwit dengan idealisme cetek tukang nyinyirin hidup orang lain mempengaruhi pikiran lo dan bikin lo jadi jahat ke orang-orang yang nggak nyakitin lo.

***

Ghost of The Best Friend Past

It was Friday night when i got home from work. Danang, my husband was already in the living room with his eyes glued to his phone probably scrolling at his social media while vaping. I immidiately change my clothes and join him opened up my phone, checking out my instagram and there it was. A little red icon on the upper right of my phone saying that my old friend has a request to follow me. I private my Instagram account because my family start to make account on Instagram (you get it). But this old friend of mine is different. Its a she by the way and she was my best friend in a very long time a go.

I checked out her account and scrolled at her photos. She seems fine, she wears hijab now which probably good for her. She seems happy and well. But thats not the problem. I cut off our friendship probably 6 or 7 years a go because she made a mess that caused a huge fight between my sister and me.

i closed my phone, and turn on the TV to get my mind off of her. But then like any other best friend do, i talked to Danang about it.

Me: so there’s this best friend of mine. Was my best friend. She made a mess that caused a huge fight between my sister and me. I cut of our friendship but just then she requested to follow me on Instagram. She did try to add my Path account too, and im like what does she wants from me?…. Did i ever tell you about her before?

Danang: No, you never tell me about her

Me: really?

Danang: …

Me: Well, if you were me. If you had a best friend before and he did something bad to you, you cut off your relationship with him and then he add your social medias, what do you do?

Danang: i dont know. i never experience something like that before.

Me: Part of me doesnt want to do anything with her anymore, but some part of me feel like i should forgive her. But you know, when i think the time (we were together) i dont feel like i want to go back there again. reliving the moment again seems a no for me..

Danang: *listening*

Me: you know its odd i never mentioned her to you. I feel like i metioned everyone to you…. She was a sad person back in college. I mean, her family wasn’t the happiest family, she didn’t have friends in her campus, she said that her college mates usually stare at her as if she was weird and thus made her withdraw herself from them, her boyfriend was a complete asshole that verbally and physically abused her. I was fine with that, i mean i don’t care who or how she was, we were best friend. I introduced her to my friends and my friends embraced her and so as time went by my friends was her friends, she was not alone anymore. Heck, she even befriended my sister. She told my sister things she didn’t told me and i was totally fine with that.

Until that time when my sister just turned to super religious and when Evil (it was literally my friend name) came to the boarding house, Dinda and Esty was there watching movies, and then i think we’re going to graduate soon and i’ve never tried beer before so why don’t you buy us one? and the he came with a large bottle of Guiness and then i taste two sips and then it was one of the grossest drink i ever tasted and the he drink some and left.

Danang: *listening*

Me: And then i told her casually couple of days later, and then not long after that my sister called me and scorned me like hell because of that, i mean what the actual fuck, right??. And the thing is, i only found out that she was the one who actually said it to my sister after i graduated. And so i message her on Facebook to never contact me again and she didn’t even say that she was sorry. So why would i (have to forgive her)??

That’s two fucking sips of beer! I mean come on man, who would’ve even drunk after drinking one glass of beer?

Danang: no one

Me: exactly!

Danang: …

Me: I feel sorry for her. I really do. She was a sad person and i just wanted to help. I thought she was a kind person, or she is a kind person. You know, she said to me once that im a lucky person. I have a loving sister and bunch of friends that actually cared for each other, she didn’t. Well, she was probably jealous of my life, but im fine with that. I knew it, and im fine. My friends is already her friends and my sister is already her friend too, and i don’t mind with that. Don’t mind it at all. In fact, when she had typhus, you know who brought her to he hospital? Evil. Yeah, i made him took her when she was shivering that night.

Danang: *listening and staring at the wall*

Me: you know why its odd i never mentioned her to you.. It maybe because she never really mean that much. We were best friend but she’s not like Ceynita. I actually learn something from Ceynita. I learn how to be happy, grateful and positive in this shitty world but not her, i learned nothing from her. I cared for her, i helped her as best as i could. I told her many times that she should dumped her boyfriend but then she married him instead.

Danang: *listening and staring at the wall*

Me: are you listening to me or just staring at a fly?

Danang: no, im listening to you. Its just i never have any experience like that before.

Me:….

Danang: but, if i were you. I think i would accept her friend request. But not to relive the memories in hoping that someday we will be best friend again. Just because that we knew each other.

Me: hmmm…

We stay silenced. After a while, we began talking about mundane things again whilst eating dinner.

It was 22:00 o’clock. The work and our conversation makes me feel tired even more. I brushed my teeth, wash my face and went to the bedroom carrying my phone.

I lay my head, open up my phone, scrolling at my Twitter news feed blankly. Thinking about her, about us. It was in the past. I always believe not everyone meant to be together forever, some people just grow apart. She seems okay now. My friend said that she finally divorced her husband. And from her Instagram caption, it looks like she’s in love with someone, she is fine. And im not exactly a person who likes to dwell in the past. What’s done is done. I’ve made up my mind years a go, why change now?.

And no, i don’t want anymore drama.

I opened up my Instagram account. Find her follow request, and tap ‘X’.

 

***

Konformis di Era Informatika

con·form·ist
kənˈfôrməst/
noun
noun: conformist; plural noun: conformists
a person who conforms to accepted behavior or established practices.

 

Berkat isu-isu panas yang terjadi selama Pilkada DKI 2017, saya jadi memerhatikan perilaku update status teman-teman di sosial media yang kebetulan muncul di timeline saya. Walaupun teman-teman tersebut bisa dibilang ya nggak deket-deket amat, tapi saya agak terkejut dengan beberapa dari mereka yang berubah menjadi super relijius dalam artian yang tidak baik. Di timeline sosial media saya, mereka termasuk orang yang sering share berita-berita hoax dari sumber-sumber berita yang tidak jelas, namun yang membuat saya tidak nyaman adalah postingan yang dibagikan mengandung konten SARA dan cenderung mengarah ke hate speech. Nah, mulai dari situ jadilah saya mengunfriend teman-teman saya tersebut.

Fenomena Pilkada DKI Jakarta tahun ini memang terasa seperti bis Metromini yang sering menghembuskan asap hitam dari knalpotnya dan main seruduk sana-sini; polusi dan berbahaya. Awalnya saya yang ikut berkomentar sekarang jadi malas, toh KTP saya juga bukan KTP DKI Jakarta. Padahal menurut saya warga Jakarta itu beruntung lho, bisa mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Cagub dan Cawagubnya, nah yang KTP Banten seperti saya? ah sudahlah yah…

Back to the topic. Banyaknya teman saya yang berubah memang hal yang wajar, namun saya juga diam-diam bertanya kok bisa ya mereka begitu? Mungkin hal tersebut terjadi karena ketidakmampuan mereka untuk berpikir mandiri, tapi masa sih segitu banyaknya orang yang nggak mampu berpikir mandiri (objektif dan kritis)? untuk mempertanyakan segalanya bahkan yang kita pelajari sekalipun. Terus saya tanya Danang, “Menurut kamu, apakah semua orang bisa berpikir mandiri?” dia biang “Kupikir nggak”

Generasi millenial selalu membanggakan dirinya sebagai generasi melek teknologi dimana kita semua hidup di dunia yang tanpa batas dengan kemudahan akses informasi yang sangat amat banyak, tapi nyatanya semua informasi yang masuk ke smartphone kalian juga bisa dikendalikan, bahkan sebenarnya bisa mendikte kalian untuk memilih siapa. Menjadikan kalian tidak bisa berpikir secara objektif dan mandiri. Sejujurnya, saya amat sangat muak dengan pemberitaan Pilkada DKI Jakarta yang untungnya sebentar lagi selesai. Saya seakan-akan tidak bisa melarikan diri dari hal tersebut, nyetel TV; Pilkada DKI Jakarta, buka smartphone; Pilkada DKI Jakarta, denger radio; Pilkada DKI Jakarta sampai interaksi di kantor; Pilkada DKI Jakarta.

Pemberitaan dan drama Pilkada itu jadi bikin lingkungan sosial saya jadi serba awkward dan membuat kita jadi konformis, mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungan sosialnya atau bahkan pemerintah. Celakanya, banyak yang kemakan sama isu Pilkada yang beredar terus terjadi perselisihan, padahal ya isu-isu itu  hampir semuanya halu dan dihembuskan oleh orang-orang yang delusional. Indonesia nggak lagi darurat apa-apa kecuali darurat konversi hutan hujan ke kelapa sawit yang dikuasai para kapitalis sialan itu dan perubahan iklim yang dialami di seluruh planet bumi. Kita semua sebenernya baik-baik aja, cuma dibikin seolah-olah lagi ada masalah konspirasi wahyudi halu nggak penting dan bosok itu (busuk).

Jadi sejujurnya yang bikin saya prihatin adalah masih banyak dari kita yang mudah dipengaruhi, menjadi domba yang berjalan kemana saja si gembala mau dan konformis yang tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa mengeluarkan kritik dan saran secara objektif namun ahli dalam mengutarakan hate speech di sosial media, bangsa yang bangga akan budaya kolektif, bangsa yang majemuk dan anti kebarat-baratan namun mencemooh kepribadian yang otentik, berpikir mandiri dan berpegang teguh dengan jargon nge-pop ‘Be yourself’.  

Dari itu semua saya menyimpulkan, ternyata untuk menjadi diri kita sendiri dan beropini di era informasi yang tanpa batas ini membutuhkan nyali yang besar.

 

 

Legally Blonde: Film Feminis Favorit Sepanjang Masa

Chick Flick

(a motion picture intended to appeal especially to women)

Beberapa hari ini, gue lagi agak jenuh dengan film keluaran hollywood yang kebanyakan bertema superhero, science fiction atau bahkan hipster ala-ala millenial. Film-film itu menarik sih, cuma gue sedang merindukan nostalgia akhir 90an dan awal 2000an dimana film-film bertema chick flick sedang jaya-jayanya. Walaupun definisi merriam webster chick flick adalah film yang dibuat khusus untuk menarik perhatian penonton perempuan, menurut gue chick flick sendiri adalah film-film yang mengisahkan kehidupan perempuan dari berbagai range usia yang memberikan masukan-masukan yang menarik.

Pada pertengahan tahun 2000an  film-film mulai mengangkat banyak cerita berdasarkan komik super hero (DC dan Marvel khususnya) dan yang bertema sci-fi adalah sesuatu yang perlu disambut dengan riang gembira. Kapan lagi kita bisa melihat karakter-karakter favorit kita benar-benar hidup? Secara teknologi juga sudah bisa mewujudkannya dengan baik. Bagi para penyuka komik dan kutu buku yang biasa di sebut Nerd ini sedang mengalami orgasme dan menjadi anak-anak populer di kalangannya. Tapi di lain pihak film bertema chick flick semakin padam. Terakhir kali gue nonton film bertema chick flick adalah film Ghostbusters (2016) yang sangat kontroversial di kalangan fanboy  Ghostbusters yang diperankan oleh Bill Murray dkk di tahun 80an ini. Bagaimana tidak, sutradara Paul Feig mengganti para Ghostbusters keren itu dengan sekumpulan perempuan dan mereka tidak seseksi Megan Fox!. Laki-laki keren itu diganti dengan sekumpulan  perempuan yang sok lucu, gendut dan lesbian. Kebencian di kalangan fanboy original Ghostbusters merajalela di forum-forum website hingga Youtube, dan percayalah hal tersebut bagi gue sangat menjijikan karena mereka nggak segan-segan mengirimkan tweet dan postingan bernada kebencian langsung ke aktris yang memerankan film tersebut, sampai ada salah satu aktris yang memerankan Patty Tolan (Leslie Jones) menutup akun twitternya saking banyaknya tweet kebencian yang ditujukan padanya. Tapi saat gue nonton,  cacian dan ejekan yang ditujukan ke aktris-aktris di Ghostbusters (2016) itu nggak masuk akal, bagi gue mereka malah sukses menghadirkan humor yang perempuan banget dan tetap terlihat badass dalam menyelamatkan dunia.

Kembali ke topik. Karena merindukan film chick flick khas akhir 90an-awal 2000an seperti Mean Girls, 10 Things I Hate About You, Sisterhood of the Travelling Pants, dll. Gue memutuskan untuk menonton kembali film Legally Blonde (2001), dan itulah magisnya saat kita menonton kembali sebuah film. Kita bisa mandapatkan pandangan baru tentang makna dari film tersebut. Setelah menonton kembali, ternyata film Legally Blonde adalah salah satu film feminis yang paling menarik dengan penyajian yang sangat ringan nge-pop dan humor perempuan yang nggak kacangan.

Kalau saat ini dunia sedang mengalami Xenophobia (Ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing) maka Elle Woods (nama tokoh utama di Legally Blonde)  adalah salah satu simbol kecil tentang prasangka manusia. Sebagai perempuan yang menyukai fashion, berambut pirang dan besar di kalangan keluarga kaya di California, label dumb blonde (perempuan berambut pirang bodoh) pun melekat padanya. Hal yang paling menarik adalah sebenarnya Elle Woods merupakan salah satu mahasiswi berprestasi dengan IPK 4,00, aktif di organisasi dan dicintai oleh semua teman-temannya (populer).

Cerita tentang Elle Woods dimulai dengan premis yang sangat sederhana: Elle diputusi pacarnya, mahasiswa Fakultas Hukum Harvard yang berasal dari kalangan keluarga senator turun-temurun Amerika yang menganggapnya ‘tidak serius’ untuk dijadikan calon istri. Elle yang awalnya ingin merebut kembali hati mantan pacarnya, menemukan makna dan tujuan baru saat ia diterima menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Harvard. Hari pertama dirinya menginjakkan kaki di Harvard, dia sudah diejek dengan panggilan ‘Malibu Barbie’. Ejekan ini terus berlanjut dan membuatnya tidak punya teman sama sekali di Harvard, mantan pacarnya pun tetap menganggap Elle sebagai seorang dumb blonde. Hal inilah yang membuatnya bangkit. Ia ingin membuktikan sejumlah prasangka yang ditujukan padanya semuanya salah. Dia belajar keras untuk menjadi seorang pengacara yang hebat dan dianggap serius namun tetap menjadi dirinya sendiri. Elle melakukan semua itu bukan untuk mengambil hati mantan pacarnya lagi, namun untuk dirinya sendiri. Bahwa ia bisa menjadi lebih daripada apa yang orang-orang sering capkan pada dirinya. Plot film Legally Blonde yang tadinya tentang perempuan menye-menye berubah menjadi perempuan tangguh yang bisa bangkit kembali dari keterpurukan.

Kita hidup di dunia yang penuh dengan pelabelan ini itu kepada hal-hal yang tidak kita mengerti atau malahan kita benci. Sedihnya, hal ini tidak hanya terjadi pada golongan ras atau agama tertentu saja, namun juga pada perempuan. Percaya atau tidak, perempuan dengan profesi yang secara umum didominasi oleh laki-laki seperti pekerja tambang, kenek angkot atau ojek tidak hanya dipandang sebelah mata, namun sering diejek dengan kata-kata kasar bahkan dilecehkan. Hal ini mengingatkan gue saat diantar pulang oleh ibu yang beprofesi sebagai ojek online. Iseng saja gue tanya,

“Ibu suka nongkrong sesama driver ojek?”

dia jawab “Yah, yang mau aja mba. Kadang ada juga yang nggak mau. Nggak suka gitu cewek narik ojek. Apalagi yang (ojek) pangkalan tuh. Beuh, mulutnya udah deh… Saya mah cuek aja apa kata orang, yang penting saya kerja jujur”

Sejujurnya, sampai saat ini gue selalu kagum sama perempuan-perempuan yang terjun ke dunia kerja yang didominasi laki-laki. Karena menurut gue, melawan stereotip bukanlah hal yang mudah, lo harus berani dan bermental baja. Gue, sebagai perempuan yang cengeng ini mungkin akan nangis dan langsung berhenti kerja kalau gue jadi Elle Woods atau ibu ojek, yang sering diejek dengan kata-kata kasar. Itu baru ejekan, gimana kalau pelecehan seksual seperti para pekerja tambang perempuan di film North Country (2005)?.

Seperti kutipan sebuah artikel dari Magdalene (yang judul dan namanya gue lupa), Indonesia adalah negara yang tabu membicarakan seks namun toko-toko yang menjual pil kuat bertebaran dimana-mana. Pelecehan seksual (fisik dan verbal) baik kepada perempuan maupun laki-laki sering kali tidak ditanggapi dengan serius. Kita masih hidup di budaya ‘cowok nggak boleh nangis, nggak boleh ngondek’

‘cewek nggak usah lah ngejar karir, ntar juga jadi ibu rumah tangga’

Sayangnya, hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh dunia. Perempuan Indonesia agak beruntung, kita sudah hidup di era demokrasi dan kebebasan berpendapat. Di belahan dunia lain jangankan wanita karir, bayi-bayi perempuan aja dibunuh karena dianggap tidak menuai profit dan perempuan dewasa dibunuh/ bunuh diri karena mahar perkawinan yang dibebankan ke ayah anak perempuan yang sayangnya banyak datang dari keluarga tidak mampu. Tapi seperti yang selalu ditekankan oleh aktivis feminis lainnya, isu perempuan bukan hanya milik perempuan untuk di selesaikan, isu feminis juga milik laki-laki. Laki-laki yang peduli terhadap perempuan, laki-laki yang mencintai, menghargai perempuan, serta laki-laki yang mempunyai ibu, anak dan saudara perempuan.

Pada akhirnya, bagi gue film Legally Blonde bukanlah sekedar chick flick biasa. Masalah yang dihadapi Elle Woods adalah sekelumit kecil dari masalah yang dihadapi oleh perempuan pada umumnya. Kehadiran Elle Woods adalah inspirasi dan simbol kekuatan perempuan untuk melawan stereotip dan prasangka atas penampilannya. Elle Woods membuktikan bahwa dirinya yang ceria, centil, percaya diri dan suka warna pink ini bukanlah tokoh perempuan menye-menye, ia adalah perempuan kuat bermental baja yang mampu untuk bangkit saat dunia mencoba mengerdilkan dirinya.

This article is dedicated for every boys and men who support, protect and liberate their women. You guys are the real MVPs! 

Dua Puluh Tujuh Belas

http___images.vandm_.biz_content_images_2000x2000_11_X2011_4_10296_049_copy.jpg

Tahun 2016 memang bukan tahun yang mudah, namun setidaknya lebih baik daripada tahun 2015. Mungkin kalian akan mengira gue akan menulis tentang pernikahan. Tapi percayalah, gue nggak sebangga itu menikah.

Ada satu film yang sampai penghujung tahun berhasil mengganggu pikiran gue; The Little Prince. Film itu membuat gue mengenang cita-cita masa kecil yang begitu banyak seperti jadi polisi hutan, antropolog, psikolog, sampai president chief communication.

Namun disitulah kelemahan gue; nggak fokus, banyak maunya. Ujungnya,  beberapa hari yang lalu gue menyesal karena kenapa cita2 itu semua nggak ada yang terwujud? What did actually stop me from believing that it could came true?

Tapi terus gue menyadari bahwa di semesta ini ada yang namanya parallel universe (suatu teori yang percaya akan realita/ kenyataan alternatif. Google aja yak, hehe). Jadi kalau dulu gue memutuskan jadi antropolog, maka bisa aja diri gue sekarang menjadi versi yang lain dengan lingkungan dan lingkaran pertemanan yang berbeda. Begitu juga kalau gue memutuskan jadi psikolog, gue bisa aja jadi tambah bitter (pahit) , tambah-tambah benci manusia. Atau mungkin jadi politisi bobrok yang ngabisin duit rakyat.

Nope. Gue memilih jadi orang sederhana dengan uang yang cukup, berbuat baik, lingkungan pertemanan yang sehat dan peduli sesama serta menjadi orang yang bersyukur atas versi diri gue yang sekarang yang serba kecukupan.

Karena kecukupan berarti tidak kekurangan untuk memberi terhadap sesama namun tidak pula berlebihan untuk disombongkan.

Selamat datang 2017. Semoga kita semua dijadikan manusia yang lebih baik dan bijaksana kedepannya.

Belajar Parenting dari Film

Mama selalu menekankan petingnya pendidikan, bukan tentang meraih pendidikan setinggi-tingginya, namun agar anak-anaknya tidak mudah dibodohi orang-orang berkepentingan jahat.

Mama yang berprofesi sebagai guru pun hampir tidak pernah absen curhat mengenai sistem pendidikan di Indonesia yang secara umum pasti sudah paham bagaimana jeleknya. Garis besar dari semua curhatan Mama yang saya tangkap selama ini adalah banyaknya orangtua yang berfikir bahwa pendidikan adalah sekolah formal atau homeschooling dengan tutor handal. Walaupun itu nggak sepenuhnya salah, tapi menurut saya pendidikan paling utama datang dari orangtua.

Saya juga bukan anak dari hasil produksi parenting 24/7, orangtua saya bekerja. Untungnya, saat saya kecil masih banyak tanah lapang, sawah, tayangan anak-anak yang menyenangkan, buku-buku cerita bergambar dan guru mengaji yang baik.

Sebagai calon orangtua, saya juga mempunyai kekhawatiran tersendiri tentang bagaimana membesarkan anak saya nanti. Akan menjadi manusia seperti apa dia?.

Karena saya termasuk orang yang masih malas membaca buku parenting, saya belajar mengenai parenting melalui film. Nggak semua film sih, cuma kalau kebetulan pas nonton film terus ternyata tentang parenting. Sejauh ini, bagi saya ada 2 film paling mengena tentang parenting; The Little Prince dan Captain Fantastic.

Saya masih ingat ketika nonton The Little Prince di bioskop dan menangis tersedu-sedu karena teringat mendiang Akung dan tersadar bagaimana saya melupakan cita-cita saya semasa kecil; menjadi polisi hutan dan pengurus konservasi binatang langka.

Film The Little Prince yang diangkat dari buku karya Antoine de Saint  Exupery ini berhasil mengajarkan saya untuk memahami cita-cita anak-anak, kalau misalnya saya punya anak laki-laki yang bercita-cita menjadi penari balet dan bersungguh-sungguh, kenapa harus saya hentikan hanya karena menari identik dengan perempuan?.

Begitu juga dengan film Captain Fantastic yang sangat amat membuka pikiran saya tentang membesarkan anak. Di film ini, anak-anak si tokoh utama yang masih berumur 8 – 16 tahun sudah hafal bill of rights, mengerti bagaimana politik bekerja (bahwa negaranya dikuasai oleh para pelobby), sudah mahfum mengenai ajaran Karl Marx dan merayakan hari Noam Chomsky dibandingkan hari natal.

Awalnya saya juga mengira itu hanya bisa terjadi dalam film, tapi ternyata nggak juga. Selama kita menganggap sang anak mampu, cerdas dan didukung orangtua yang disiplin dan sabar menuntun, saya yakin bisa.

Di film ini saya belajar tentang pentingnya kejujuran orangtua kepada anak. Dalam sebuah adegan, salah seorang anak dari tokoh utama bertanya:

“Ayah, apa itu pemerkosaan?”

Si Ayah pun menjawab dengan apa adanya, bahwa pemerkosaan adalah tindakan paksa untuk melakukan seks oleh seseorang (yang biasanya dilakukan oleh laki-laki) kepada orang lain (yang biasanya adalah perempuan)

“Apa itu seks?”

“its when a man sticks his penis into woman’s vagina”

“eeew!”

Seorang anak akan terus bertanya mengenai hal yang ingin ia ketahui sampai ia mengerti. Disinilah saya sadar bahwa kita dibesarkan dalam dogma bahwa anak kecil itu nggak boleh tahu apa-apa sebelum umurnya. Saya fikir, nggak ada salahnya bersikap jujur apa adanya terhadap anak, mereka berhak tau apa yang terjadi di kehidupan nyata. Misalnya kenyataan bahwa Ibu Peri di kisah Cinderella itu tidak nyata. Tidak pernah ada yang namanya Ibu Peri atau Cinderella, itu adalah kisah yang dibuat oleh seseorang untuk membuatmu berpikir bahwa perempuan tidak akan bisa menjadi apa-apa tanpa laki-laki tampan nan kaya sebagai suaminya.

Dari dua film tersebut, saya belajar 3 hal:

  1. Jangan pernah menertawakan cita-cita anakmu
  2. Jangan pernah menjadi penghalang bagi cita-citanya
  3. Jangan pernah menganggap anak-anak bodoh yang tidak boleh tahu kehidupan nyata

Mama selalu bilang “anakmu bukanlan anakmu” kutipan Khalil Gibran ini mempunyai makna bahwa walupun dia anakmu, tapi dia bukan milikmu. Dia adalah dirinya, menempel padanya kepribadian dan cara berpikirnya sendiri. Besarkanlah dirinya menjadi pribadi unik yang bisa berpikir kritis dan independen. Jangan mendikte dirinya, apalagi kehidupannya. Orangtua mengajarkan yang baik-baik dan mengarahkan, tapi hidupnya adalah miliknya bukan milik orangtuanya.

Mau sekolah jauh ke Jerman atau menjadi relawan kemanusiaan di Namibia, biarkanlah mereka terbang.

the-little-prince

 

Oleh Mar,

yang belum punya anak dan belum berencana punya.

Gosip

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang memposting seorang pegawai (western) yang nggak nyaman dengan lingkungan kerjanya yang didominasi oleh perempuan, kenapa? salah satunya adalah karena gosip. Walau kesannya sepele, namun di tipe-tipe orang tertentu, gosip bisa jadi satu hal yang sangat politis dan personal, which is not a very good thing at all.

Di buku Organizational Communication-nya Goldhaber juga dijelaskan betapa gosip di sebuah organisasi itu merupakan permasalahan serius yang mesti diklarifikasi. Awalnya, buat gue gosip itu sebuah hal yang biasa dan natural, meskipun aktivitas gosip selalu dikaitkan dengan kaum perempuan yang lebih sociable dan secara biologis (dan umumnya) harus ‘menghabiskan’ banyak kata untuk diucapkan dalam satu hari (Allan & Barbara Pease). Gue pun bergosip, namun gue merasa dalam konteks yang mengabarkan sesuatu yang masih nggak jelas kebenarannya. Namun di tipe-tipe orang tertentu, aktivitas bergosip bisa membuat kita salah sangka terhadap orang lain, kita jadi orang yang nyinyir dan jealous, and thats how a person become a bitch or an asshole.

Sebagai orang yang nggak punya banyak teman dekat perempuan, gue mengakui bahwa gue kurang suka dengan aktivitas bergosip yang menuntun gue menjadi salah sangka terhadap orang lain. Sejujurnya itu salah satu perasaan yang paling gue benci; salah sangka karena mengira orang jahat yang sebenarnya baik atau malah mungkin emang jahat tapi dia nggak ngejahatin gue dan teman-teman dekat gue. Orang yang suka bergosip dengan menjelek-jelekan/ nyinyir orang lain adalah tipe orang yang akan amat sangat gue jauhi dari pergaulan. Ada banyak hal di dunia ini yang bisa diomongin selain kejelekan orang lain. Banyak banget.

Im sorry for the rude words im about to say, menurut gue orang yang suka gosip dan nyinyir adalah tipe orang dengan pikiran dangkal yang nggak akan pernah punya kompetensi di bidang apapun karena sibuk mikirin kerjaan orang lain. Dari sekian banyak orang sukses dan cerdas yang gue temui, gue nggak pernah ketemu yang perilakunya suka bergosip.

Pernah ada anjuran bahwa kita nggak boleh jadi orang sombong, kita nggak boleh jadi orang yang pilih-pilih teman. Well, its bullshit. Memilih teman adalah memilih pergaulan, dan pergaulan lo itu adalah yang akan menentukan kepribadian lo. Kalau temen-temen lo tipe awkarin, ya otomatis lo akan menjadi tipe orang yang seperti dia. Temen-temen lo tipe om-om yang suka cari panti pijet lo akan menjadi seperti dia, emangnya mau? gue sih enggak, hahaha.

So choose wisely. Hidup cuma sekali untuk sibuk mikirin hal-hal nggak penting kayak kejelekan orang lain. Gue menduga, jangan-jangan orang yang hobi gosip sebenarnya adalah pribadi insecure yang terlalu memikirkan hal-hal hedonistik yang nggak akan bisa dicapainya.

Ah… kasihan ya

 

 

Harley + Joker

*****Warning, Highly Spoiler! *****

Beberapa waktu yang lalu gue nonton film DC terbaru; Suicide Squad.

Overall filmnya tipikal superhero, dengan sekumpulan antihero sebagai squad utamanya namun formulanya tetap sama. Cuma ada satu hal yang paling menarik di film ini buat gue, yaitu relationship antara Harley Quinn dan Joker.

Gue bukan penggemar komik, tapi bagi gue hubungan cinta Harley dan Joker itu sesuatu yang unik dan bermakna.

Latar belakang cerita mereka dibuka dengan scene rumah sakit jiwa dimana Harley Quinn bekerja. Sebelum jadi Harley Quinn, dia adalah Harleen Quinzele. Seorang psikiater yang berniat menyembuhkan Joker, namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Joker berhasil memindahkan isi pikirannya ke Harleen. Hingga saat anak buah Joker membebaskannya dan kemudian Joker menyekap Harleen dan menyetrum otaknya.

Disitulah Harley Quinn lahir.

Screenshot_1

Dari banyak pengalaman gue menonton film, Joker adalah satu-satunya tokoh sinematik yang menciptakan jodohnya sendiri dan buat gue itu puitis.

Cinta tidak selamanya harus digambarkan secara mendayu-dayu, lemah dan lembut. Cinta itu juga gila. Seperti statement Sherlock Holmes yang mempercayai bahwa cinta bisa lebih memotivasi seseorang untuk membunuh daripada benci.

1446353498-1353077907_n

Saat orang-orang normal begitu rapuh dengan isu-isu ‘membosankan’ seperti perselingkuhan, perbedaan prinsip, kelamin, dan lain-lainnya, kegilaan mental dan relationship Harley dan Joker itu inseperable, nggak bisa dipisahkan.

Saat pasangan normal bersedia mati untuk pasangannya dan bersumpah sampai maut memisahkan, Joker membuat Harley berjanji:

“Would you live, for me?”

lalu melempar Harley dan dirinya sendiri ke dalam tong berisi cairan lilin panas. Disitulah warna kegilaan Joker dan Harley menyatu. Dalam sebuah kesempatan, Joker malah memberikan Harley sebagai ‘hadiah’ kepada kliennya dan tersinggung saat klien menolak.

Saat banyak pasangan kecewa karena perselingkuhan, Joker dengan senang hati memberikan Harley kepada orang lain tanpa merasa insecure bahwa Harley sudah tidak mencintainya lagi. Relationship mereka lebih dari itu, mereka berdua tau siapa pasangannya. Joker tau Harley cuma milik dia, begitu pun sebaliknya.

Relationship antara Harley dan Joker juga ada versi aslinya. Kalu lo tumbuh di tahun 90an – awal 2000an pasti ingat dengan pasangan paling notorious saat itu; Pete Doherty dan Kate Moss. Relationship mereka juga jadi inspirasi film Indonesia Radit dan Jani.

Pete dan Kate juga segila Harley dan Joker. They were inseperable and mad.

Kate Moss yang seorang supermodel kelas dunia itu jatuh cinta dengan Pete Doherty, vokalis band The Libertines yang komuknya pun yaelah banget. Pete dengan lifestyle sex, drugs and rock n roll itu dengan ajaibnya bisa membuat Kate jatuh cinta bukan kepalang. Seiring berjalannya waktu, Kate jadi pengguna narkoba kayak Pete yang bikin dia kehilangan banyak job, padahal waktu itu dia lagi hits banget karirnya. Hubungan mereka juga bolak balik terus kayak setrikaan baju.

46e9d4d99bb59b271a3bf75772fc7f96

But every story has an ending. Walau Harley dan Joker tidak terpisahkan, namun mereka lemah ketika bersama. Menjadi normal pun cuma sebatas angan-angan Harley saja. Begitu juga antara Pete dan Kate. Mereka menjadi orang yang lebih baik ketika tidak bersama.  Tapi apakah itu menjadikannya tidak jodoh? Apakah jodoh itu harus selalu bersama? Gimana lo bisa tau dengan pasti kalau pasangan lo adalah jodoh lo yang sebenarnya?

Banyak orang yang bilang kalau cinta itu misterius, nggak bisa dilihat, bisanya dirasakan. Karena gue tipe orang yang romantis-realistis, gue percaya bahwa sejatinya yang tau jodoh lo adalah diri lo sendiri. Pikiran bisa menyangkal, tapi rasa enggak.

Pikiran lo mungkin bisa bilang manis saat makan garam, tapi lidah lo nggak.

You Can’t Have Everything

Sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya untuk mengungkap rahasia semesta alam, gue punya satu teori tentang keterbatasan.

Manusia nggak bisa memiliki semuanya…

You cant have everything…

Sejatinya, semua yang ada di jagat raya itu ada batasnya, bahkan Einstein pun menduga bahwa jagat raya (universe) pasti ada batasnya, kecuali kebodohan umat manusia.

We are bound to be limited. Aktris Emma Watson misalnya, nggak ada yang mendebat kalo dia cantik, fashionable, dan lulusan ivy league, tapi ironisnya dia cuma bagus meranin Hermione Granger aja. Sama halnya dengan Taylor Swift yang berbakat menciptakan lagu namun masih perlu mengasah skill bagaimana memilih pasangan yang baik agar tidak kerap kali dikecewakan para lelaki kardus.

Tapi jangan kecewa, justru itu bukti kalau mereka manusia.

Lo nggak bisa jadi ibu, istri dan wanita karier yang excellent. Lo nggak bisa berkarier di perusahaan internasional, gaji selangit dan nggak diperbudak kerjaan lo.

Gue percaya semua yang ada di jagat raya ini ada rumusnya. Lo bisa berteori 1 + 1= 5, tapi someday, pasti akan ada konsekuensi yang bakal nunjukin kalo yang bener itu 1 + 1 = 2, karena itu formula yang seimbang.

Semua manusia boleh jadi serakah, tapi bukan berarti bisa memiliki segalanya.